SAJAK SEBATANG CEMARA KERING
Buat karibku Hosriyanto Hobir
sebelum dirimu menjelma sebatang cemara kering, ku lihat di jantungmu mengalir gemericik air sungai, mengibarkan pijar-pijar musim pada bebutir kerikil yang bertebaran di padang dingin. kau pun menunggangi kuda perang yang memercikkan bola api dari pukulan kuku kakinya, demi menziarahi sunyi ngarai yang demikian curam.
sebagaimana sujud kemarau yang rebah di jernih retinamu, kelopak-kelopak itu masih berjatuhan dari tangkainya yang lapuk, meski hanya semilir yang berdesir, merangkai sebaris epitaf pada sepotong batu nisan yang dipahat indah dengan lelentik jemari rembulan.
maka alangkah curam lelembah kawah hatimu; desau leletih angin menunggu diammu membatu bercadas magma, jentik reriak hujan menunggu sukmamu bergemuruh sirna.
“aku hanya sebatang cemara kering”, sembari tertawa pada angin, kau pun pamit dengan bahasa Tuhan.
Madura, 2005
MAKA KAU BISIKKAN
; sebuah puisi persembahan
maka kau bisikkan...
helai beribu angan di paras rembulan
memercikkan denyar kerinduan
dan karang lembayung di senja matamu
adalah sepotong mimpi di ujung semu
maka kau bisikkan...
kesunyian laut, lelah makin kalut
di pantai biru imajimu
ku tasbihkan syahadat rindu
maka kau bisikkan...
malam yang membungkam denyut nadiku
namun hening tidurku makin larut
sebelum debur ombak menerjangku
ke tengah samudera yang kian bisu
Surabaya, 02 Nopember 2009
RUBAIAT AIR MATA
Andai...
dirimu tak jua lelah menanti
air mata yang tergerai
kuriliskan sebaris sajak untukmu
tentang hati yang lama mati
dalam gugus cinta yang kau cipta
adakah serpihan luka itu sia-sia?
Hah...
rinai-rinai gerimis
yang dulu kau lukis
tak sehangat rinduku menangis
sebab masih selalu kubutuh derai embun
yang mengalir di matamu
menyirami kemarau panjang di hatiku
agar lukisan langit kembali biru
cobalah sesekali kau pahat matahari
lantaran aku rindu pelangi
seperti kelepak silir angin
menyemai lelah bait-bait sunyi
dalam leletih kembaraku
curam mimpi demikian dingin
Surabaya, 2008
ALAS BULUH DINI HARI (1)
bersama gigil angin pantai dan secangkir kopi hangat;
jejatuhan kapuk-kapuk itu berjelaga di rekah fajar
meinggalkan helai resah pada dedebu jalanan
merangkai anatomi setapak jalan sunyi
yang mengucur deras dari lebam kening matahari
dari ketinggian puncak gunung Raung
ku potret denyar temaram Watudodol
sedang rahang Banyuwangi demikian kabut
dan degup laut Ketapang menjelma kidung
di pelepah nyiur rinduku bersemi
menekuri zikir malam dalam selembar puisi
alas buluh dini hari
menanti sajakku memucuk abadi
Banyuwangi, 1425 H.
*) Pujangga Kesasar adalah nama pena dari Bahauddin Amyasi. Sajaknya yang berjudul “Keluh Gerimis” masuk nominasi 10 sajak terbaik pada lomba penulisan puisi se-Jawa timur yang diselenggarakan oleh LPI Darul Ulum Banyuanyar 2003. Bagi pembaca yang ingin menikmati lantunan sajak dan gerimis kata-katanya, silahkan kunjungi blog pribadinya di www.pujanggakesasar.co.cc
Sajak-sajak Pujangga Kesasar
Posted by
IMABA Surabaya
on Tuesday, December 8, 2009
Labels:
Edisi Perdana,
Sajak-sajak

0 comments:
Post a Comment