Denyar-denyar Cinta (Part 1)



  By : Abdul Qadir Jailani
…..
Andai semilir masih selalu bisu
Betapa dalam makna menuggu
Maka biarlah asa dan kebimbangan
Memucuk pilu di gugus awan
Di lelembah curam cinta
Orkestra kebisuan
Menerjemahkan nayanyian Tuhan

“Aku mencintaimu, Cha…,” ungkapku dengan hati bergeletar hebat, dengan nada terbata-bata, pada Icha. Beban berat berton-ton yang akhir-akhir ini menghimpit jiwaku terhempas sudah.
       Sejenak, hening demikian dingin.
       Sunyi. Sesunyi jiwaku yang terjerembab dalam labirin tanpa ujung. Di luar, rintik-rintik embun menitik pelan-pelan. Menambah gigil kalbuku demikian curam.
       Tak ada sepatah kata pun dari ujung telpon di sana.
Moment malam terkhir dalam sebuah acara pelatihan yang diadakan bagi mahasiswa penerima beasiswa kupilih untuk mempresentasikan isi hatiku. Acara yang diagendakan Departemen Agama RI tiap akhir tahun ini adalah momen yang sangat ditunggu oleh teman-teman, karena selain free, acaranya sangat menarik dan menyimpan kesan tersendiri. Kali ini, Forum nasional ini ditempatkan disebuah hotel elit berbintang di sebuah daerah di pinggiran kota Bandung (entah bintang berapa aku belum mengetahuinya). Suasana dingin, sunyi yang mencekam, memberikan makna tersendiri bagiku. Pemakaian telpon secara gratis kujadikan kesempatan dalam melaksanakan “aksiku” ini.


         Jangankan berfikir untuk tidur di hotel berbintang, bermimpi pun aku masih enggan. Sejak hidup, baru pertama kali ini aku tidur di hotel elit, atau tepatnya Villa, barangkali. Aku, Aji, anak yang lahir dari keluarga starta menengah ke bawah di sebuah desa terpencil pulau Madura, hanya mampu bersyukur karena di tengah ketidakmampuan ekonomi, aku masih bisa melanjutkan studiku di salah satu PTN di Surabaya dengan beasiswa penuh. Ada kebahagiaan tersendiri ketika dengan penuh ketakjuban aku dapat melihat hamparan kebun teh yang menghijau nun jauh di bawah sana. Gumpalan kabut pelan-pelan berarak, lalu perlahan-lahan menipis. Bila malam tiba, aku dapat melihat gemerlap kota Jakarta dengan pendar-pendar lampu yang sesakan-akan redup. Aku dapat melihat gedung-gedung menjulang tinggi dengan keangkuhannya yang menawan. Yang pasti, akau tidak sedang bermimpi.
        Icha, gadis yang sekarang juga ikut acara ini adalah gadis Ponorogo yang ramah, meski sedikit manja. Icha yang cantik, meski sedikit centil. Icha yang bagi sebagian temanku dianggap aneh, tapai aku menyukainya. Icha yang kelak membuatku sadar bahwa hidup memang sarat absurditas, penuh paradoksalitas. Di antara teman sekelas aku yakin dialah gadis yang paling cantik. Kata salah seorang temanku, dia putri seorang Kiai sebuah pondok pesantren modern di Ponorogo. Meski tidak tampak kalau Icah bedarah biru. Tapi, aku mencintainya bukan karena dia anak seorang Kiai, tetapi karena totalitas dari dirinya. Banyak sikap yang tidak ku sukai darinya, tapi entah kenapa aku masih tetap menyukainya, bahkan mencintainya. Inilah barangkali paradokslitas itu. Inilah absurditas itu.
          Sebelum memuali “perbincangan sakral” ini kusucikan diriku dengan air wudhu’. Kedamaian tiba-tiba turun merembes bersama air suci yang menyerap ke dalam pori-pori wajahku. Ada kekuatan dan ketakutan yang muncul seketika. Mengharap ketenangan jiwa dan niat yang tulus dalam hati.
          “Aku minta maaf telah berani mencintaimu, dan aku sangat mengerti keaadaanmu. Memahmi kenyataan hidupmu. Di hatimu sudah ada seseorang, dan orang itu bukan aku. Begitu pula aku, meski tidak jelas nasibnya. Sekali lagi aku minta maaf, Cha. Aku minta maaf telah lancang mencintaimu”.
          Senyap.
          Dingin makin beku.
          Perlahan-lahan masih ku dengar titik embun yang merinai di luar sana. Jatuh di dahan pohon dan dedaunan. Sesekali derap semilir mengusikku pelan-pelan.
         “Jujur, perasaan ini bukan baru terlintas dalam hati, tapi sudah lama menggelayut dalam liang-liang diri, telah lama hidup dalam jantung ini. Tapi aku mampu menahan dan memendamnya dalam diam. Mengemasnya dengan rapi. Dengan banyak pertimbangan aku beranikan untuk mengungkapkannya sekarang. Kamu tidak perlu menjawab atau menanggapi presentasiku ini!”.
          Lega. Meski ada ketakutan yang mengambang di pelupuk mata.
         “Kamu tidur, Cha?”
         “Gak …,” jawabnya pelan.
         “Kok diem gitu…? Kamu mangkel ta?” logat jawaku mulai muncul. Campur kode yang kupelajari dari mata kuliah Psiko-Sosio Linguistik itu tanpa sadar telah kuterapkan.
        "Nggak….,” sambungnya pelan. Ketus. Berat.
         Tetap hening.
         Mulutku kelu. Terasa berat untuk mengeluarkan sepatah kata. Diam dan hanya euphoria yang menghunjam kesadaranku. Kesadaran yang mulai tergugah, bahwa menerima kehadiranku dalam hatinya sepertinya hanyalah utopia belaka.
       “Ya udah, kamu istirahat aja, ini sudah pagi. Kuharap perasaan ini tidak menambah beban hidupmu. Ini hanyalah ungkapan sebuah perasaan yang tidak perlu ditanggapi. Makasih ya….Assalmualaikum…!!” Gagang telpon ku tutup. Debur jantung ini tak mampu ku sembunyikan.
         Aku tidak bisa memejamkan mata. Inilah barangkali yang dimaksud cinta itu. Cinta yang aku sendiri tak tahu alasan sebenaranya mengapa aku harus mencintainya. Mungkin di kamar sana dia juga mengalami hal yang sama. Meskipun dengan warna hati yang berbeda.
         ”Kau tahu, Ji, ketika ia menolakku, ketia ia mengatakan dengan jujur bahwa di hatinya
telah ada orang lain. Dan ia tidak biasa menerima perasaanku. Dan memang tak akan pernah menerima cintaku. Kau tahu, apa yang kurasakan saat itu? Sakit, ji. Sakit banget. Bahkan terlampau sakit hati ini,” begitu Acung membeberkan riwayat cintanya kepadaku, dulu.
          Ah, andai kau tahu perasaanku saat ini, Cung. Andai kau tahu ...
          Dalam mata yang hampir lelap, tiba-tiba aku teringat kata-kata Jalaluddin Rumi. Jika cinta hidup di satu hati, pasti ia ada di hati yang lain. Ya, Rumi memang bicara tentang cinta yang sebenarnya, tapi cerita cintaku berada pada fakta yang berbeda.
          “Ya Allah, apapun jawabannya, semoga ini menjadi jalan terbaik bagiku. Sungguh, aku mencintainya ya Allah ...”
           Subuh hampir merekah. Bandung masih berselimut dingin.

* * *

Mahasiswa lalu lalang di halaman kampus. Petala langit Surabaya menjelang senja masih menyisakan kegetiran di sela-sela jiwaku. Perjalanan Bandung-Surabaya terasa begitu berat, melelahkan seluruh sendi-sendi tubuhku. Dari sermabi masjid pandanganku hampa. Jiwaku teramat haus, maka ku kejar fatamorgana itu. Tenggoronganku kering, dan aku ingin segera meneguknya. Ah, rupanya aku telah lupa, bahwa fatamorgana tetaplah fatamorgana, tak akan pernah menjelma menjadi oase sejuk di padang sahara.
Aku malas untuk beranjak ke asrama. Hatiku gelisah. Jiwaku kalut. Aku ingin duduk di masjid ini sampai Isya’ nanti! Bahkan kalau perlu sampai larut malam! Hatiku berapologi sendiri. Bergumam sepi.
            “Aji, kenapa kamu, kok berubah gitu, sedih truz… ada masalah ya?” tanya Alif, teman dari Sunda dengan raut penasaran dan sedikit menyudutkan. Memulai percakapannya denganku setelah salat Isya’.
            “Gak ada apa-apa, lagi bete aja …”
Alif si Sunda ini memang akrab denganku. Ia tahu betul semua tentangku, bahkan masalah privat dan asmara pun ia juga tahu. Di mana ada Alif, disitu ada aku, begitu kata salah seorang temanku. Kami berdua merupakan sejoli yang cocok, dengan adanya kesamaan visi dan saling men-support satu sama lain. Meskipun tidak jarang terjadi perdebatan hebat dalam masalah keyakinan.
           “Kamu ada masalah sama Neng, ya Ji..? Aku tahu kok!!!”
            Dugaanku betul. Ia tahu benar keadaanku.
            Pertanyaannya mulai menjurus dan tepat menusuk ulu hatiku. Aku tidak bisa mengelak
lagi. Dia orang yang dekat denganku dan juga sangat dekat dengan Icha, yang dia panggil Neng itu. Jadi tahu betul kalau ada yang berubah dari teman-temannya, termasuk aku.
           “Sebenarnya kamu ada rasa gak sih sama dia?” Belum sempat kujawab satu tonjokan lagi mengenaiku, kali ini di bagian kepalaku.
           Aku semakin tidak bisa bergerak.
          “Sebenarnya sih….. gak ada apa-apa, Al,” jawabku sedikit hipokrit. Sedikit menahan pukulan telak dari temanku itu. Lemah.
          “Ahh… nagku aja. Teman-teman semua pada ngomongin kamu sama Neng, kalau kamu itu ada apa-apa sama dia. Tapi kalau temen-temen tanya aku, aku sih bilang kamu gak ada apa-apa. ’Aku temen paling dekat Aji, mosok kamu lebih tahu dariku’, jawabku gitu”.
          Pandai juga kau mengarang cerita, Al, sergahku dalam hati.
          “Sebenarnya kamu ada rasa atau malah ada apa-apa ma dia,” ia berusaha mengntrogasiku, meminta kejelasan hubunganku dengan Icha, Neng itu.
          “Ya, oke aku cerita sekarang. Sebenarnya aku gak pengen cerita pada siapa-siapa. Ini adalah komitmen yang ku buat, namun semoga ini menjadi kebaikan dan menjadi sebuah solusi, terutama bagi motivasi belajarku,” ungkapku menyerah setelah bertubi-tubi di tusuk dengan pertanyaan-pertanyaan tajamnya.
           Suasana mesjid yang kian sepi dan keadaan hatiku yang bingung membuatku pasrah membuka rahasia yang sebenarnya ingin kupendam dalam-dalam, segala-tentangku tengangnya, tentang riwayatku riwayatnya, semuanya.
           “Sebenarnya aku memang punya rasa pada Icha, dan ini bukan hal yang baru muncul di benak dan hatiku” dengan datar aku memulai ceritaku.
           Alif masih diam termangu.
           Di atas sana, langit sudah menyemburat kelabu kekuning-kuningan. Berarak keperak-perakan. Bagiku, Surabaya malam hari adalah sebuah fargmen yang sama sekali paradoks. Sarat dengan ambiguitas yang silang sengkarut. Aku merasa sepi dalam kegaduhan panjang. Aku merasa sunyi dalam kebisingan malam. Cahaya rembulan tidak begitu berarti karena sinar lampu mercuri dan sejenisnya hampir bertebaran di seluruh penjuru kota Surabaya. (Bersambung ke bagian 2)

*) Penulis adalah alumnus PP. Mambaul Ulum Bata-bata. Sekarang sedang menempuh pendidikan di IAIN Sunan Ampel Surabaya dan tercatat sebagai mahasiswa penerima beasiswa Santri Berpsrestasi Depag (CSS Mora) angkatan 2006.

0 comments:

Post a Comment