Nasehat Seorang Sahabat



Sahabatku...            
Janganlah kau cemberut saat merasa sedih, karena kau tidak tahu kapan seseorang suka pada senyummu. Mungkin bagi dunia kau hanyalah seseorang. Tapi bagi seseorang, mungkin kau adalah dunia. Maka nikmatilah rasa sedihmu, dengan berfikir positif dan memanfaatkan apa yang kau miliki dengan lebih baik lagi agar besok menjadi sesuatu yang berguna dan lebih berarti.


Sajak-sajak Pujangga Kesasar

SAJAK SEBATANG CEMARA KERING
                                           Buat karibku Hosriyanto Hobir

sebelum dirimu menjelma sebatang cemara kering, ku lihat di jantungmu mengalir gemericik air sungai, mengibarkan pijar-pijar musim pada bebutir kerikil yang bertebaran di padang dingin. kau pun menunggangi kuda perang yang memercikkan bola api dari pukulan kuku kakinya, demi menziarahi sunyi ngarai yang demikian curam.

sebagaimana sujud kemarau yang rebah di jernih retinamu, kelopak-kelopak itu masih berjatuhan dari tangkainya yang lapuk, meski hanya semilir yang berdesir, merangkai sebaris epitaf pada sepotong batu nisan yang dipahat indah dengan lelentik jemari rembulan.

maka alangkah curam lelembah kawah hatimu; desau leletih angin menunggu diammu membatu bercadas magma, jentik reriak hujan menunggu sukmamu bergemuruh sirna.

“aku hanya sebatang cemara kering”, sembari tertawa pada angin, kau pun pamit dengan bahasa Tuhan.

Madura, 2005


Denyar-denyar Cinta (Part 1)



  By : Abdul Qadir Jailani
…..
Andai semilir masih selalu bisu
Betapa dalam makna menuggu
Maka biarlah asa dan kebimbangan
Memucuk pilu di gugus awan
Di lelembah curam cinta
Orkestra kebisuan
Menerjemahkan nayanyian Tuhan

“Aku mencintaimu, Cha…,” ungkapku dengan hati bergeletar hebat, dengan nada terbata-bata, pada Icha. Beban berat berton-ton yang akhir-akhir ini menghimpit jiwaku terhempas sudah.
       Sejenak, hening demikian dingin.
       Sunyi. Sesunyi jiwaku yang terjerembab dalam labirin tanpa ujung. Di luar, rintik-rintik embun menitik pelan-pelan. Menambah gigil kalbuku demikian curam.
       Tak ada sepatah kata pun dari ujung telpon di sana.
Moment malam terkhir dalam sebuah acara pelatihan yang diadakan bagi mahasiswa penerima beasiswa kupilih untuk mempresentasikan isi hatiku. Acara yang diagendakan Departemen Agama RI tiap akhir tahun ini adalah momen yang sangat ditunggu oleh teman-teman, karena selain free, acaranya sangat menarik dan menyimpan kesan tersendiri. Kali ini, Forum nasional ini ditempatkan disebuah hotel elit berbintang di sebuah daerah di pinggiran kota Bandung (entah bintang berapa aku belum mengetahuinya). Suasana dingin, sunyi yang mencekam, memberikan makna tersendiri bagiku. Pemakaian telpon secara gratis kujadikan kesempatan dalam melaksanakan “aksiku” ini.

Me-Wihdatul Wujud-kan Moral-Intelektual


Oleh : Ihsan Maulana, M.Pd.I

Tulisan ini berangkat dari sebuah rasan-rasan (diskusi) penulis dengan beberapa rekan dosen, doktor dan profesor beberapa perguruan tinggi Islam di Jawa Timur yang melihat bahwa mahasiswa perguruan tinggi Islam saat sekarang ini banyak yang meletakkan masalah agama sebagai kajian dan bukan pengajian, terutama di kalangan para aktivis terpelajarnya. Peletakan sebuah issue yang menempatkan rasionalitas intelektual tampak terpisah dari sisi moral etika yang dibawa dari agama itu sendiri. Pemisahan ini memang tuntutan dunia keilmuan (sains) yang bebas nilai di satu sisi tapi di sisi lain tak ayal membuat sebagian mahasiswa memisahkannya sama sekali dengan dunia intelektualitas yang banyak dituntut dari sebuah lembaga akademik. Dari itu tidak sedikit pula para mahasiswa hanya menjadikan hal keislaman yang memuat etika moral hanya diletakkan pada pertarungan konsep yang mengisi ruang-ruang diskusi yang digelar. Etika acapkali digagas sebagai aturan yang menuntun sebagian sikap masyarakat belaka, bahkan sebagian Mahasiswa memisahkannya dengan masalah kebahagian, rasionalitas dan pengobatan rohani. Karenanya, perlu sebuah upaya bersama melihat dengan jernih persoalam etika.

SUNRISE: Menyongsong Hari yang Mencerahkan


Alhamdulillah. Selamat datang dan kami ucapkan : we are the one, we are number one, we are sunrise! Karena bagaimana pun, hidup adalah seberkas harapan, jalinan sketsa mimpi yang terbit di pagi yang merona indah. Itulah harapan, yang membuat kita mampu tegak berdiri, menengok masalalu tanpa ratapan dan menatap masa depan penuh keyakinan.

Konon, ada satu pepatah klasik yang berkata: mulailah hidupmu dengan semangat di awal pagi, karena hidup bermula dari situ. Maka pagi tiba-tiba menjadi berarti bagi mereka yang terus mencari diri.  Lalu tumbuh mekar di hati. Sebab dari titik kecil embun pagi, hati manusia menghirup fajar pagi dan menemukan gairah segar kehidupan.

Itulah filosofi SUNRISE, nama buletin yang dipilih Devisi Penerbitan Ikatan Mahasiswa Bata-bata (IMABA) wilayah Surabaya, sebagai medium informasi-publikasi antara pengurus, warga dan khalayak publik. Diramu dengan racikan yang humanis-progresif, dengan suguhan rubrik-rubrik menarik dan muatan reflektif-kontemplatif yang bisa menghentak nalar dan logika anda. Selamat membaca ....

Selamat Datang di Buletin Sunrise


Selamat datang dan kami ucapkan : we are the one, we are number one, we are sunrise! Karena bagaimana pun, hidup adalah seerkas harapan. Harapan yang terbit di pagi yang merona indah. Harapan yang membuat kita mampu tegak berdiri, menengok masalalu dan menatap masa depan.