By : Abdul Qadir Jailani
…..
Andai semilir masih selalu bisu
Betapa dalam makna menuggu
Maka biarlah asa dan kebimbangan
Memucuk pilu di gugus awan
Di lelembah curam cinta
Orkestra kebisuan
Menerjemahkan nayanyian Tuhan
“Aku mencintaimu, Cha…,” ungkapku dengan hati bergeletar hebat, dengan nada terbata-bata, pada Icha. Beban berat berton-ton yang akhir-akhir ini menghimpit jiwaku terhempas sudah.
Sejenak, hening demikian dingin.
Sunyi. Sesunyi jiwaku yang terjerembab dalam labirin tanpa ujung. Di luar, rintik-rintik embun menitik pelan-pelan. Menambah gigil kalbuku demikian curam.
Tak ada sepatah kata pun dari ujung telpon di sana.
Moment malam terkhir dalam sebuah acara pelatihan yang diadakan bagi mahasiswa penerima beasiswa kupilih untuk mempresentasikan isi hatiku. Acara yang diagendakan Departemen Agama RI tiap akhir tahun ini adalah momen yang sangat ditunggu oleh teman-teman, karena selain free, acaranya sangat menarik dan menyimpan kesan tersendiri. Kali ini, Forum nasional ini ditempatkan disebuah hotel elit berbintang di sebuah daerah di pinggiran kota Bandung (entah bintang berapa aku belum mengetahuinya). Suasana dingin, sunyi yang mencekam, memberikan makna tersendiri bagiku. Pemakaian telpon secara gratis kujadikan kesempatan dalam melaksanakan “aksiku” ini.